Masyarakat Sehat MandiriUtama

Mengenal Kampung Hijau Pulo Wonokromo Wetan – Jagir

Belajar pengelolaan lingkungan hidup, khususnya yang berbasis di kampung atau pemukiman, bisa dilakukan dengan berkunjung ke kampung Pulo Wonokromo Wetan RW 4 Kelurahan Jagir, Kecamatan Wonokromo, Kota Surabaya.

Kampung binaan PT Pertamina TBBM (Terminal Bahan Bakar Minyak) Group Surabaya dan berlokasi di samping gedung Pertamina Jagir ini penuh dengan inovasi lingkungan. Beragam sarana/prasarana pengelolaan lingkungan hidup dimanfaatkan di kampung hijau ini.

Ada budidaya ikan lele, nila belut dan bekicot. Ada rumah jamur, instalasi pengolahan air limbah domestik, hidroponik dan pengolahan limbah kain perca menjadi keset. Pengolahan limbah kain perca memanfaatkan limbah kain perca dari usaha kecil menengah kawasan Perak, Surabaya.

Ada juga pengolahan sampah organik menjadi kompos, pupuk cair dan biogas. Kompos dan pupuk cair digunakan memupuk semua tanaman di kampung ini. Sedangkan biogas digunakan untuk memasak warga kampung.

Ada bank sampah untuk mengolah sampah non organik yang dihasilkan warga.  “Kami juga menyediakan tempat khusus untuk pengumpulan air cucian beras dan jelantah dari warga,” ujar Didik Amirul Hadi, atau akrab dipanggil Nanang, tim inovasi lingkungan RT 02 RW 4.Banyak juga inovasi program lingkungan hidup lainnya.

Pengolahan sampah organik ini menghasilkan pupuk cair, kompos dan biogas

Kampung ini juga sudah dilengkapi dengan instalasi hydrant dan alat pemadam api besar untuk antisipasi bencana khususnya kebakaran. “Warga RW 4 juga terus dibina untuk tanggap terhadap kemungkinan terjadinya bencana,” terang Nanang. Petunjuk tanggap bencana sudah banyak disosialisasikan kepada warga kampung ini.

Beragam penghargaan lingkungan juga berhasil diraih oleh kampung ini. Diantaranya adalah penghargaan IPAL terbaik untuk kategori kampung maju, Kampung Terinovatif kategori Pemula SGC 2013, kampung terinovatif kategori maju SGC 2016, dan kampung terinovatif kategori maju SGC 2015.

Tantangan terbesar dalam mewujudkan kampung hijau ini, menurut Nanang, adalah melibatkan sebanyak mungkin warga. “Kita harus terus berinovasi agar warga terlibat aktif dalam pengelolaan lingkungan hidup di kampung,” tutur Nanang, panggilan akrab Didik Amirul Hadi.

Hasil dari instalasi pengolahan air limbah (IPAL) domestik yang ada saat ini sudah digunakan untuk menyirami tanaman vertikal garden dan usaha mencuci motor. Kampung ini bahkan berencana segera merealisasikan terapi ikan dari air hasil IPAL. 

Reporter: Mochamad Zamroni

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *