Forum Kota Surabaya Sehat Kenalkan Jenis Mangrove dan Manfaatnya kepada Ratusan Siswa
Lulut Sri Yuliani, penggiat mangrove dan anggota Forum Kota Surabaya Sehat melakukan pengenalan mangrove kepada sekitar 150 siswa peserta penanaman mangrove di Kebun Raya Mangrove Gunung Anyar Surabaya, Sabtu (19/7/2025) siang.
“Pengenalan jenis-jenis mangrove sangat penting, khususnya Excoecaria agallocha atau yang dikenal dengan nama lokal ‘buta-buta’. Getah tanaman ini dapat menyebabkan iritasi dan pembengkakan,” kata Lulut Sri Yuliani. Oleh karena itu, menurut Lulut, sangat disarankan untuk tidak menggunakan daun tanaman ini sebagai pembasuh tangan atau alat kelamin setelah buang air di hutan.
Dengan teknologi tinggi di bidang farmasi, getah Excoecaria agallocha justru dapat dimanfaatkan sebagai bahan salep luka. Sementara itu, Cerbera manghas atau bintaro memiliki manfaat ekologis yang luar biasa, yaitu mampu memulihkan lahan kering dan tandus menjadi lebih subur.
“Getah dari buah dan daunnya juga dapat digunakan sebagai bahan tuba ikan atau racun tikus. Perlu dicatat, buah kering Cerbera manghas justru tidak bersifat racun, melainkan dapat memancing tikus berkumpul karena dianggap menarik sebagai mainan,” Lulut menerangkan .
Bunganya juga sangat berguna. “Jika dicampur dengan mente, alpukat, kelapa, kemiri, bawang merah, telur, dan pisang, bunga Cerbera manghas dapat dijadikan sampo bayi atau sampo untuk kulit sensitif,” tambah Lulut. Selain itu, bunga ini bisa diolah menjadi sabun cuci penghilang noda dan pembersih lantai alami.
Jenis mangrove lainnya, seperti Sonneratia caseolaris dan Sonneratia ovata, menurut Lulut, juga memiliki banyak manfaat. “Tanaman ini dapat diolah menjadi minuman, makanan, kosmetik, sabun, sampo, pewarna batik, dan lain sebagainya. Sementara itu, kawasan Mangrove Gunung Anyar dikenal memiliki koleksi lengkap Avicennia sp., seperti Avicennia alba, Avicennia marina, Avicennia officinalis, dan Avicennia lanata,” tuturnya.
Peneri penghargaan Kalpataru 2011 ini menjelaskan bahwa manfaat tanaman Avicennia antara lain: akarnya dapat mempercepat pengendapan sedimen atau tanah oloran, sedangkan daun pucuknya bisa dimanfaatkan sebagai pakan monyet, sayur, tepung, dan bahan dawet.
“Namun, konsumsi tanaman ini hanya disarankan untuk orang dewasa karena seluruh jenis Avicennia mengandung senyawa penghambat pertumbuhan. Oleh karena itu, tanaman ini juga dijadikan bahan dasar pil KB alami,” Lulut Sri Yuliani menjelaskan.
Jenis mangrove lain yang unik adalah Pemphis acidula atau pempis, yang tumbuh di antara bebatuan dan karang, sehingga cocok dijadikan tanaman bonsai. Adapun tanaman jeruju (Acanthus ilicifolius) sering menjadi tempat sembunyi burung kecil dan habitat pembiakan ikan.
“Daunnya yang tersusun empat ke atas bisa digunakan untuk makanan dan minuman, sedangkan yang tersusun lima ke bawah serta bunganya dimanfaatkan sebagai bahan pewarna batik. Bijinya pun berkhasiat sebagai bahan herbal,” Lulut menuturkan.
Batik Mangrove untuk Dunia
Batik mangrove pertama kali diciptakan pada tahun 2000 dan mulai diperkenalkan secara luas pada tahun 2007, meskipun penuh tantangan. “Baru pada tahun 2009, batik mangrove mulai diterima oleh masyarakat. Tujuan utama dari pengembangan batik mangrove adalah sebagai media dakwah lingkungan, agar masyarakat Indonesia dan dunia lebih peduli terhadap kelestarian mangrove,” kata Lulut.
“Pada tahun 2016, tim Batik SeRu Mangrove dikirim ke Wina, Austria, untuk mengenalkan batik mangrove sekaligus melatih para desainer Jerman dan Austria dalam pembuatannya. Harapannya, perhatian Eropa terhadap ekosistem mangrove dapat mendorong dukungan berupa dana pembelian karbon untuk konservasi mangrove di Indonesia,” ujarnya.
Puncaknya, deklarasi Mangrove Dunia terlaksana pada acara G20 tahun 2022 di Bali. Dalam acara tersebut, Batik SeRu Mangrove terpilih menjadi suvenir resmi untuk 40 kepala negara yang hadir.
Penulis: Mochamad Zamroni

