Surabaya Wakili Indonesia di Forum Anak Dunia di Tokyo
Di saat banyak kota masih mencari formula terbaik untuk melibatkan anak dalam pembangunan, Surabaya justru melangkah lebih jauh—membawa suara anaknya langsung ke panggung dunia. Awal Februari 2026, Kota Pahlawan menjadi satu-satunya kota dari Indonesia yang hadir dalam Tokyo Global Forum on Children (TGFC) 2026, sebuah forum internasional bergengsi yang mempertemukan kota-kota dunia untuk membahas masa depan anak dan remaja dalam konteks kebijakan perkotaan.
Forum yang diselenggarakan oleh Pemerintah Metropolitan Tokyo pada 4–6 Februari 2026 ini menempatkan isu anak dan remaja sebagai jantung pembangunan kota berkelanjutan. Beragam topik strategis dibahas, mulai dari kesehatan mental remaja, penyediaan ruang aman, kesempatan belajar dan bekerja, hingga partisipasi bermakna anak dalam proses pengambilan keputusan. TGFC menjadi ruang penting bagi kota-kota dunia untuk saling belajar, sekaligus menegaskan bahwa masa depan kota sangat ditentukan oleh bagaimana generasi mudanya diperlakukan hari ini.
Surabaya diwakili oleh dua utusan, Revalina Fernanda, siswa SMPN 1 Surabaya yang juga Eco Student (Junior) of the Year 2025 dan Putri V Lingkungan Hidup 2024, serta Puspita Ayuningtyas, Kepala Tim Pembanguan Manusia – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Surabaya.
Keduanya bertolak ke Jepang pada Senin malam, 2 Februari 2026, menggunakan penerbangan GA319 rute Surabaya–Jakarta dan GA874 rute Jakarta–Tokyo, dan dijadwalkan tiba di Tokyo pada Selasa, 3 Februari 2026 sekitar pukul 12.00 waktu setempat. Keberangkatan ini bukan sekadar perjalanan dinas, melainkan membawa pesan dan praktik baik Surabaya ke level global.
Menurut Puspita Ayuningtyas, keikutsertaan Surabaya dalam TGFC 2026 bukan tanpa alasan. Surabaya telah diakui secara internasional sebagai Kota Layak Anak Dunia (Child Friendly Cities Initiative) oleh UNICEF, sebuah pengakuan atas komitmen jangka panjang pemerintah kota dalam pemenuhan hak anak.
Dalam forum ini, Puspita dijadwalkan menyampaikan presentasi khusus mewakili Pemerintah Kota Surabaya, memaparkan kebijakan, program, serta pendekatan lintas sektor yang telah diterapkan Surabaya dalam membangun kota yang aman, inklusif, dan berpihak pada anak.
Yang membedakan Surabaya dari banyak kota lain adalah keberaniannya menghadirkan anak sebagai subjek utama, bukan sekadar objek kebijakan. Hal ini tercermin dari kehadiran Revalina Fernanda, anggota Forum Anak Surabayadan penggiat muda Tunas Hijau, yang dijadwalkan melakukan presentasi mewakili suara anak-anak dalam forum global tersebut. Melalui Revalina, pengalaman anak Surabaya—tentang ruang bermain, pendidikan, lingkungan hidup, hingga partisipasi dalam isu iklim—disampaikan langsung kepada komunitas internasional.
Tokyo Global Forum on Children 2026 diikuti oleh 20 kota dari 4 benua, di antaranya Auckland, Berlin, Brussels, Cardiff, Copenhagen, Helsinki, Houston, London, Malmö, Milan, Munich, New Taipei, New York, Petaling Jaya, Singapore, Taipei, Toronto, Vienna, serta perwakilan nasional Irlandia, bersama Surabaya dari Indonesia. Kehadiran Surabaya di antara kota-kota global tersebut menegaskan bahwa praktik baik dari Indonesia mampu berdiri sejajar dan relevan dalam diskursus internasional.
Partisipasi Surabaya dalam TGFC 2026 menunjukkan bahwa pembangunan kota yang berkelanjutan tidak hanya dibangun melalui infrastruktur, tetapi juga melalui keberanian mendengar suara anak. Dengan menggabungkan kebijakan pemerintah, partisipasi anak, serta dukungan masyarakat sipil, Surabaya memberikan contoh nyata bahwa kota ramah anak bukan sekadar konsep, melainkan praktik yang hidup dan terus berkembang. Dari Surabaya ke Tokyo, pesan yang dibawa jelas: masa depan kota dimulai dari anak-anak hari ini.
Penulis: Mochamad Zamroni

